Article

Antara Budi dan Sapadi

Sudah dua hari saya tiba-tiba aku jatuh cinta dengan sebuah lagu yang tampil di beranda YouTube.

Sebenarnya hanya seklebat saja aku melihatnya, sama seperti ketika melihat beberapa gambar sampul videonya youtuber yang direkomendasikan oleh algoritma YouTube.

Melukis Senja
, begitu judulnya.

Mulanya saya kira lagunya Alffy Rev bersama istrinya, yang menjuluki keduanya dengan Pagi untuk Linka dan Senja untuk Alfy. Tapi ternyata bukan lagu suami istri itu.

Penyanyinya sangat asing bagi saya, Budi Doremi!
Eh antik sekali namanya, mengingatkan saya pada Alif Ba Ta!

Yang menarik lagi, ketika aku klik video itu, kudengar intro lagunya. Ya! suara ukulele, alat musik yang khas dipakai para pengamen jalan yang manggung di atas bus antar kota.

Begitu kudengarkan,
Ah, keren juga syair lagunya.
Mungkin bagi orang lain biasa aja, tapi bagiku syairnya sederhana tapi mengena

Izinkan ku lukis senja
Mengukir namamu di sana
Mendengar kamu bercerita
Menangis tertawa

Mendengar lagu itu semalam bebrapa kali sambil sambil menginstal beberapa aplikasi di laptop baru milik teman.

Tiba-tiba di newsfeed browser, kulihat judul berita sang maestro puisi Sapardi Djoko Damono meninggal.

Inalillahi wa innailaihi Raji'un..

Seketika aku ingat puisi legenda yang mungkin jutaan orang sudah tahu dan bahkan menghafalnya

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Ah, puisi itu indah sekali.. dan ketika pertama kali aku mendengarnya juga langsung jatuh cinta, dan berwaktu-waktu aku tak tahu siapa yang nulis.

Tapi dari puisi itu aku belajar banyak hal..
Dulu.. sejak sekolah..aku suka nulis puisi bahkan lirik lagu..tapi aku selalu minder karena merasa puisi-puisiku tidak canggih tak nyastra dan bahasanya terlalu sederhana untuk dipahami orang lagi.

Entahlah racun dari mana yang mengatakan bahwa menulis puisi harus menggunakan kata-kata dan kalimat yang tak mudah dipahami, sehingga puisi menjadi sebuah karya tulis hanya untuk kasta tentu, kasta elit yang tak banyak orang paham..mirip musik jazz yang tak semua orang paham atau tepatnya tak bisa menikmati karena itu milik kasta tertentu.

Tapi puisi Sapardi yang kukenal - meski cuma sebiji, membuatku sadar bahwa puisi yang indah tak harus membuat pusing yang membacanya dan bahkan bisa dinikmati seluruh kasta manusia.

Sejak itu aku tak peduli lagi menuliskan puisi-puisi sesuai kata hati..meski pendek dan kata-katanya mudah ditebak dan dipahami banyak orang.

ini yang kubisa

maafkan aku
beginilah yang aku bisa
saat mencintaimu,
tanpa kata-kata indah
dan untaian bunga,
tapi sekedar tatapan mata
peredam rindu.

27 november 2010

**
Ya, Sapadi dan Budi, aku belajar, bahwa menuliskan puisi itu tak usah harus dengan kata dan kalimat yang membuat orang mengernyitkan dahi untuk menikmati.

****
Lawang, 20/07/2020 - 20:24

Tidak ada komentar:

Terima kasih sudah membaca tulisan "Antara Budi dan Sapadi"!
Jika Anda punya kritik, saran, masukan atau pertanyaan silahkan tinggalkan pesan Anda melalui kolom komentar di bawah ini.