Article

Islam dan Simbol


Akhir-akhir ini saya agak jengah juga dengan semakin banyaknya temen-temen muslim yang menurut saya sudah kelewatan menyikapi perbedaan pendapat di antara sesamanya.
Saya katakan kelewatan, karena secara tidak sadar mereka mengolok-ngolok bagian apa-apa yang menjadi bagian dari ajaran dan syiar dari agama islam itu sendiri.

Ada banyak contoh mengenai hal ini, mulai yang tingkat basi (karena saya sudah mendengar/membacanya sejak kuliah dulu) sampai termutakhir.
Anda, mungkin sudah sering mendengar ungkapan ini,

"Lebih baik tidak berjilbab tetapi baik hatinya, dari pada berjilbab tetapi jelek prilakunya.."

Ini contoh "kasus lama" yang sebenarnya mudah sekali membantahnya, wong membuat perbandingan kok tidak Apple to Apple. Karena kalo logika seperti itu diterus-teruskan, bisa jadi akan ada ungkapan

"Lebih baik tidak sholat tapi ikhlas, daripada sholat tapi melakukannya tidak ikhlas (karena pamrih atau karena lainnya."

Ya, kalo ada orang yang ngomong gitu di depan saya, sekalian saya bilang, ya uda sana, kalo gak mau berjilbab, jangan nanggung-nanggung, pakai bikini atau telanjang sekalian, toh yang penting hatinya baik. :D

Atau gak usah solat sekalian, yang penting ikhlas meninggalkan sholat, :D
Sedangkan contoh yang mutakhir adalah seperti : " Jika dengan mendekat pada agama perangaimu (sifatmu) menjadi kasar, maka saatnya kau mengambil jarak dengan agama..."
Lah, iki maksude piye?

Melihat fenomena ini, saya jadi ingat dengan materi pengajian yang pernah saya dengarkan pertengahan tahun 90-an yang lalu. Ada banyak cara yang dilakukan oleh setan agar kita, kaum muslim ini, semakin jauh dari ajaran-ajaran islam, secara bertahap, mulai dari melakukan dekonstruksi atas pola pikir kita terhadap islam, merubah prilaku (akhlaq), hingga menggeser aqidah yang menjadi fondasi keimanan kita bergeser.

Hal yang paling mudah dilakukan oleh setan adalah "membenturkan" antara "teori dan praktik" dan yang paling mudah adalah mulai "menghantam simbol-simbol yang sebagian besarnya adalah ajaran islam" Seperti,

 "Apa pejabat itu berjilbab tapi koruptor, mending si A yang gak jilbaban tetapi orangnya bersih".

Ya, mereka lupa bahwa islam tidak bisa dilepaskan dari simbol-simbol karena itu bagian dari ajaran (syariat) yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Misalnya, ibadah haji - ya harus pergi ke mekkah sana, bukan "dikonversi" dengan kegiatan lain. Tujuan dari penyerangan terhadap simbol-simbol tadi ada hal, seperti:

1. Membuat keragu-raguan: dengan menyerang secara masif simbol-simbol tadi, diharapkan seorang muslim akan goyah keyakinannya terhadap ajaran agamanya. Yang akhirnya dia akan berkata, "ajaran quran yang ini sudah gak relevan denga jaman, coba lihat..ini... itu.. dll)

2. Pengaburan, setelah orang ragu, target berikutnya adalah membuat orang muslim jadi tidak bangga dengan identitas dan simbol-simbol yang dia kenakan dan dia kerjakan. dan terlebih lagi menjadi enggan mempelajari lebih dalam agamanya.

3. Pencampuran antara yang halal haram, pahala dan dosa. Setelah orang tidak bangga dengan ajaran agamanya, akhirnya dia akan permisif atas nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai agamanya. Misalnya, melihat temannya yang muslim meminum minuman yang memabukkan, bukannya mencegah atau menasehati tetapi memberikan "toleransi" dengan dalih "agama itu urusan pribadi, tak layak kita dan berhak mencampuri urusan orang lain" - padahal dalam surat pendek al asr, yang sering dibaca dalam sholat, memerintahkan agar saling menasihati sesama muslim tentang kebenaran dan kesabaran.

Nah pertanyaan akhirnya adalah,

Apakah kita jugaa merasakan akibat dari penyerangan simbol-simbol itu sekarang?

Tidak ada komentar:

Terima kasih sudah membaca tulisan "Islam dan Simbol"!
Jika Anda punya kritik, saran, masukan atau pertanyaan silahkan tinggalkan pesan Anda melalui kolom komentar di bawah ini.