Article

Latihlah Lisan Kita

Suatu ketika, di sebuah rumah sakit di Malang, ada seorang yang harus dirawat inap selama beberapa hari. Penyebab dia harus dirawat adalah telinganya yang terkena tetanus akibat kurang berhati-hati saat membersihkan telinganya. Saking parahnya penderitaannya, dia sering mengerang kesakitan.

Tahukah anda apakah yang diucapkannya saat dia menahan rasa sakit yang sangat itu?
Bukan, istighfar atau pujian kepada Allah tetapi kata-kata umpatan yang kotor yang keluar dari mulutnya. Diantara sadar dan tidak, berkali-kali umpatan kotor itu keluar dari mulutnya. Yang memprihatinkan lagi, saudaranya yang menjaganya karena tidak tahan dengan keluhan si sakit yang suka mengumpat, maka dia balas mengumpat dan menyumpahi yang sakit dengan kata-kata kotor pula. Naudzubillahi mindzalik

Sementara itu, pada saat kerusuhan di Ambon, seorang relawan kesehatan dari MER-C (Medical Emergeny Commision) menceritakan sebuah kejadian yang cukup menajubkan. Salah satu korban kerusuhan tersebut adalah seorang remaja belasan tahun. Kakinya mengalami luka yang cukup parah sehingga dokter memutuskan harus diamputasi. Tetapi permasalahannya adalah, obat-obatan peredam rasa sakit sudah habis untuk melakukan operasi tersebut. 

Dikhawatirkan sang pasien tidak akan kuat menanggug rasa sakit selama operasi, tetapi disisi lain jika tidak diamputasi maka akan membahayakn jiwa sang remaja. Akhirnya dengan peralatan darurat dan obat-obatan yang tersisa operasi amputasi tersebut dilakukan tanpa memberi suntikan peredam rasa sakit. Ketika operasi dilangsungkan sang remaja tidak mengeluh sama sekali, dari bibirnya yang terucap hanyalah ucapan-ucapan kalimat Thoyyibah, dan istighfar. Hal itu dilakukan terus hingga operasi selesai. Ketegaran sang remaja dalam mengalami rasa sakit dengan berserah diri pada Allah menjadi inspirasi bagi pasien dan relawan kesehatan lainnya. SubhanaLlah. 

Pembaca yang dirahmati Allah, seandainya saat itu Allah SWT mengambil nyawa kedua orang yang kita ceritakan di atas tadi pada saat mereka seperti itu, kita bisa membayangkan siapakah yang akan menghadap Tuhannya dengan khusnul khotimah! 

Ya, sang remaja tadi insyaAllah khusnul khotimah. 

Tetapi ada pelajaran yang sangat berharga dari dua kejadian tersebut bagi kita semua, yaitu, seseorang akan nampak akhlaqnya yang sesungguhnya ketika dia mengalami kondisi yang sangat menyulitkan baginya, seperti sakit pada cerita di atas. 

Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa diantara kedua orang tadi berbeda ketika menghadapi ujian dari Allah SWT, yang satu senatiasa bertasbih dan istighfar semenatra yang lain justru melakukan sesuatu yang dimurkai Allah SWT dengan mengumpat.
Ada pepatah dari para orang bijak, tanamlah kebiasaan maka aka kau tuai karakter (akhlaq), dan akhlaqmu akan menentukan nasibmu. 

Saudara pembaca yang mulia, mungkinkah orang yang senantiasa mengucapkan kata-kata kotor setiap saat akan mengucapkan kalimat thoyyibah ketika dia kesulitan? Mungkinkah orang yang senantiasa berbuat maksiat akan berakhir dengan khusnul khotimah? 

Allah SWT melalui RasulNya yang mulia, telah mengajarkan kepada kita agar selalu membasahi lisan kita dengan dzikrullah. Setiap habis sholat, kita disunnahkan membaca tasbih, tahmid dan takbir, dan istighfar minimal sehari 100 kali sebagaimana Rasulullah s.a.w lakukan. 

Begitu juga Rasulullah SAW, juga mengingatkan kita agar senantiasa menjaga lisan kita untuk berkata yang baik, atau kalau tidak bisa lebih baik diam. 

Itu semua agar lisan kita terbiasa membantu hati kita mengingat Allah disaat-saat kita mengalami kesulitan. 

Wallahualam . 

Ditulis untuk buletin Insaf Edisi 27. 


















Tidak ada komentar:

Terima kasih sudah membaca tulisan " Latihlah Lisan Kita"!
Jika Anda punya kritik, saran, masukan atau pertanyaan silahkan tinggalkan pesan Anda melalui kolom komentar di bawah ini.